Jumat, 2009 Maret 06

Lima Karakteristik Pendidikan Jesuit

Karakteristik pertama dari pendidikan Jesuit adalah hasrat dan kehendak yang besar untuk berkualitas. Keunggulan akademis sangatlah penting. Ini tidak berarti bahwa institusi pendidikan Jesuit tidak memiliki kelemahan dalam program-program pendidikannya tetapi lebih berarti bahwa setiap institusi pendidikan Jesuit selalu memiliki arah untuk mengusahakan pendidikan yang baik, dan disegani oleh pelaku di dunia pendidikan. Keunggulan akademis berarti juga adalah pelayanan yang berorientasi pada kualitas, karena dengan demikian institusi pendidikan kita menerapkan standar yang tinggi baik untuk siswa dan para guru.

Karakter kedua dari pendidikan Jesuit adalah dikembangkannya ilmu-ilmu humaniora dan ilmu pengetahuan (sains) di dalam setiap bidang dan spesialisasi. Insititusi pendidikan Jesuit ingin agar setiap peserta didiknya bisa berpikir, berbicara dan menulis; memahami sejarah, sastra dan juga seni budaya; membantu agar cakrawala berpikir mereka diperkaya dengan pemahaman yang diinspirasikan dari filsafat dan teologi; dan di satu sisi memahami matematika dan ilmu pengetahuan. Institusi pendidikan Jesuit mau agar para peserta didik dapat dipersiapkan dan siap untuk hidup mandiri dan bekerja. Pendidikan yang demikian semakin penting dewasa ini di tengah-tengah tuntutan yang tinggi dalam penguasaan teknologi. Kita membutuhkan sarjana teknik yang bisa mengapresiasi karya sastra dan ahli komputer yang memahami sejarah dan akar-akar peradaban dunia dan manusia.

Karakter ketiga dalam pendidikan Jesuit adalah dorongan terus menerus untuk mencari jawab atas problem-problem etika dan sistem nilai hidup baik dalam level personal maupun dalam konteks dunia kerja para lulusannya. Nilai-nilai keluarga, integritas pribadi, dan etika bisnis selalu menjadi pokok yang penting bagi institusi pendidikan Jesuit. Institusi Jesuit haruslah mengajak peserta didiknya untuk memahami dan mencari jawab atas problem-problem ekonomi, rasisme, perdamaian dan peperangan, kemiskinan dan penindasan serta problem-problem ketidakadilan.

Karakter keempat dari pendidikan Jesuit adalah pentingnya untuk mengembangkan pengalaman iman dan hidup rohani terlebih bagi peserta didik katolik. Namun demikian di era ekumenisme jaman ini, pengembangan iman dan hidup rohani tentunya terbuka untuk siapa saja. Pengalaman iman dan hidup rohani sangatlah penting dalam pengembangan pribadi yang integral, oleh sebab itu perlu diintegrasikan dalam proses pendidikan agar peserta didik memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang baik dalam pengetahuan dan iman.

Karakteristik kelima dari pendidikan Jesuit adalah perhatian kepada pribadi. Bagaimanapun besar dan kompleksnya permasalahan dalam sebuah institusi pendidikan Jesuit, perhatian dan pendampingan pribadi peserta didik adalah hal yang sangat penting. Peserta didik perlu mendapat perhatian dan sapaan yang manusiawi dalam konteks pengembangan dirinya secara integral baik di dalam maupun di luar kelas, secara akademis maupun non-akademis. Pendampingan dan perhatian macam ini, yang dilakukan oleh pendidik, karyawan, maupun pimpinan sekolah merupakan sesuatu yang diyakini lebih dari sekedar tugas, bahkan lebih dari sebuah profesi. Perhatian dan pendampingan terhadap pribadi peserta didik adalah sebuah panggilan. Panggilan sebagai pendidik dalam institusi pendidikan Jesuit mendapatkan identitasnya secara nyata pada sejauh mana para pendidik memiliki semangat pantang menyerah, passion atau hasrat untuk menyapa, memperhatikan tumbuhnya pribadi peserta didik secara integral dalam berbagai aspek kegiatan dan juga tantangan-tantangan dinamika anak didik jaman ini, bukan sekedar datang, mengajar, menilai, dapat duit dan pulang. Menjadi pendidik di Kolese Jesuit tidaklah sama seperti menjadi guru les atau karyawan kantor/perusahaan. Panggilan menjadi pendidik tentunya didasari akan adanya kecintaan terhadap peserta didik, kecintaan terhadap kaum muda yang kita dampingi dengan harapan dan optimisme besar supaya mereka bisa tumbuh mengembangkan potensi dirinya menjadi pribadi yang bertanggungjawab, berkomitmen, kompeten, berhati nurani dan berkepedulian sosial. Tanpa adanya kesadaran akan panggilan ini, karakteristik pendidikan Jesuit di sebuah kolese akan kehilangan gregetnya.

(Tulisan ini disadur bebas dari “Five Traits of Jesuit Education” oleh Robert A. Mitchell, SJ, Boston College Magazine, 1988, dalam Jesuit Education Reader, 2008 oleh Augustinus Widyaputranto, SJ)


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Selasa, 2008 Agustus 05

Jendral Jesuit Tentang Pastoral Gereja

Berikut ini saya sajikan satu cuplikan wawancara Pater Adolfo Nicolas, SJ, Superior Jendral Serikat Jesus dengan para editor dari jurnal-jurnal yang dikelola Jesuit. Kutipan yang saya sajikan ini berkaitan dengan Gereja dan reksa pastoralnya kepada umat dewasa ini. Saya melihat poin yang disampaikan Pater Jendral sungguh menarik dan penting. Selamat membaca.

***

Dewasa ini banyak orang khususnya kaum muda mengambil jarak dengan institusi Gereja. Apakah Pater bisa memahami perilaku ini, dan mengapa banyak orang meninggalkan Gereja?

Ya saya pikir saya bisa memahaminya sungguh karena saya pun pernah mengalami hal yang sama terhadap banyak institusi. Namun demikian saya kira kita perlu memahaminya dengan lebih cermat mengingat ada banyak faktor dalam perubahan sosial budaya yang kita alami dewasa ini yang bisa mempengaruhi hal tersebut. Salah satu yang menyebabkannya adalah hasil dari kelengahan kita sekian lama. Kita tidak memberdayakan kaum awam sebagaimana kita buat di masa lalu dalam reksa pastoral kita kepada umat. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku dari Pater Andrew Greeley, seorang sosiolog di Amerika. Buku ini memaparkan sebuah studi tentang imam-imam di Amerika Serikat. Studi ini mengungkapkan banyak hal khususnya tentang stereotype negatif terhadap para imam dan juga mempromosikan citra imam yang positif: Imam adalah pribadi yang normal dan biasa, tidak lebih buruk dari kebanyakan orang. Namun demikian, satu hal yang sungguh dikritik habis-habisan oleh Greeley adalah "budaya klerikalisme" (clerical culture). Dia mengatakan bahwa efek dari kultur macam ini adalah memburuknya pelayanan kepada umat (misalnya dalam kotbah/homili dan juga perayaan sakramen atau liturgi). Greeley membuat penelitian sosiologi yang membandingkan antara Imam Katolik dan Pendeta Protestan. Dalam 7 kategori yang digunakan dalam studi ini, Greeley menyimpulkan bahwa Pendeta Protestan memiliki performa yang lebih baik dibandingkan Imam Katolik, dalam hal sebagai berikut: keramahan kepada umat, respek kepada perempuan, dalam hal berkotbah, dalam pelayanan terhadap kaum muda, dalam hal kegembiraan dan humor dsb. Ini sungguh studi yang menarik. Lebih jauh lagi, di negara-negara yang dikatakan "negara katolik" seperti spanyol dan italia, dan beberapa tempat lain juga, anda bisa melihat bahwa pelayanan yang diberikan di paroki-paroki sangatlah minim sekali.

Di asia, saya sudah sekian lama dikejutkan oleh realitas ini. Bekerja bertahun-tahun di sebuah institut pastoral membuat saya menyadari bahwa problem yang sama juga terjadi di seluruh asia. Seringkali reksa pastoral seorang imam tidak terjadi sebagaimana seharusnya. Sebagai contoh: sakramen, yang bagi saya sungguh kaya, merupakan sebuah jalan yang sungguh menarik dan indah untuk memperkaya hidup banyak orang, karena sakramen itu sungguh berkaitan dengan hidup dan muncul dari realitas kehidupan manusia. Kita percaya bahwa kita berkomunikasi dengan Tuhan lewat sakramen. Sakramen mengalirkan rahmat untuk kita; Sakramen adalah anugerah Kristus untuk GerejaNya. Tetapi seringkali kita memutus jarak antara sakramen dan kehidupan nyata, dan menjadikan sakramen hanya sebatas ritual belaka, dan tidak berkaitan dengan hidup nyata sehari-hari. Sudah begitu lama kita mendengar keluhan dan tuduhan demikian, dan memang dalam banyak hal ungkapan itu merupakan sesuatu yang sungguh benar. Karl Bath sendiri mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak memiliki "Teologi Perkawinan" tetapi hanya "Teologi Perayaan Perkawinan". Saya pikir ini berlaku juga untuk berbagai sakramen lainnya. Kita tidak memberikan kepada umat arti dan esensi sakramen yang sesungguhnya karena kita sudah melupakan asal-usulnya dan hanya memberikan kepada mereka bentuk rumusan dan ritual yang sudah paten: Rumusan dan ritual bahwa kita memiliki 7 sakramen dan harus dirayakan dengan cara-cara tertentu. Kurangnya keterkaitan antara pengalaman batin dan rohani dengan hidup real secara nyata telah membuat banyak keluarga dan komunitas dalam Gereja sungguh lemah. Dan sekarang ini kaum muda berhadapan dengan budaya baru dengan segala tantangannya. Mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi inspirasi/pegangan hidup atau yang sama-sama atraktif. Inilah sebabnya mereka lebih tertarik untuk terlibat di dalam sekte-sekte dan gerakan-gerakan lainnya. Sekali lagi, vatikan sebenarnya sudah membuat studi yang hebat sekitar 20 tahun yang lalu berkaitan dengan sekte-sekte dan gerakan spiritual, dan mengapa banyak orang bergabung di dalamnya. Kita tidak pernah memperhatikan studi ini secara serius. Studi sudah dibuat, banyak poin terungkap di dalamnya, namun kita tidak juga pernah mengatakan: "inilah yang harus kita ubah dalam komunitas-komunitas kita". Dalam banyak hal lain, ini seringkali terjadi juga.

Gereja seringkali begitu buruk dalam pelayanan pastoralnya. Konsekuensi dari hal ini sebagaimana kita lihat adalah adanya sebagian orang yang memisahkan diri dari kristianitas maupun dengan Gereja. Di asia, buat saya hal ini selalu menyedihkan, karena yang saya lihat adalah bahwa buddhisme sungguh kuat disana. Buddhisme tidak memiliki doktrin, tidak memiliki perayaan liturgi, sangat minim dengan kewajiban-kewajiban, namun demikian jutaan orang tetap bertahan sebagai buddhist. Mengapa demikian? Karena inti dari "reksa pastoral" buddhisme adalah memberikan pengalaman dan membantu banyak orang lewat meditasi, pencapaian kedamaian dan kebebasan batin. Ya, kita juga seringkali memberikan latihan-latihan dan ritual pula, namun kita sangat kurang dalam memberikan kepada umat tentang semangat dan roh yang menjiwai dan memberi hidup dalam latihan-latihan dan ritual yang kita lakukan. Dalam pandangan saya, ini adalah masalah yang penting, dan ini sungguh berkaitan dengan pernyataan saya sebelumnya. Saya ingin agar kita para Jesuit selalu berbuat secara mendalam pada hal apapun yang kita buat. Misalnya, bila kita di paroki, paroki tersebut harus sungguh-sungguh "dirombak total"dan "revolusioner": Kita harus tanggap terhadap anak-anak, kaum tua, kaum muda dan juga pasangan-pasangan muda serta menemukan kebutuhan mendalam mereka dan bagaimana bisa melibatkan mereka. Paroki kita harus menjadi Paroki Jesuit, bukan hanya paroki yang baik dimana setiap orang merasa baik-baik saja. Kita perlu menghadirkan pengalaman akan Tuhan yang mendalam di dalam paroki Jesuit. Saya tahu ini tidak mudah. Bila kita punya sekolah, sekolah itu harus memiliki kekhasan dari sekolah lain. Di sini saya kira semangat Magis menjadi relevan: Ini soal totalitas, semangat dimana kita memiliki totalitas dalam segala sesuatu yang kita buat. Kita harus tetap memiliki relasi mendalam dengan Tuhan yang harus menjadi pokok dari segala yang kita buat. Dan sekarang masalahnya adalah bila kita tidak sungguh mendalam dan serius dalam pastoral kita, kita akan dapat masalah besar.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Kamis, 2008 Juli 31

Ignatius of Legola

Berikut ini adalah video clip kisah hidup Santo Ignatius lewat lego. Clipnya sederhana tetapi menarik dan sedikit lucu. Masih dalam rangka Pesta Santo Ignatius. Selamat menikmati.



Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Inter Nos (31/07/08)

Tidak terasa blogsite Finding God in All Things sudah berjalan selama satu tahun. Sungguh merupakan sebuah perjalanan yang singkat, tetapi sekaligus merupakan sebuah pengalaman berharga karena saya sungguh belajar memelihara sebuah blog, berusaha untuk kreatif dan dengan setia mengisinya di tengah-tengah kesibukan lain.

Blogsite ini adalah sebuah inisiatif pribadi untuk menghadirkan sebuah akses informasi kepada banyak orang yang ingin mengenal spiritualitas Ignasian dan profil Jesuit, khususnya Jesuit Indonesia. Kemudahan akses informasi di internet berkaitan dengan Jesuit dan Spiritualitas Ignasian tentunya menjadi hal yang penting dewasa ini dan lebih-lebih di tahun-tahun ke depan seiring dengan berkembangnya pola komunikasi banyak orang dewasa ini. Lebih-lebih bagi orang muda, sesuatu yang tidak eksis di internet bisa jadi dianggap sebagai sesuatu yang tidak eksis di muka bumi. Ya memang ini ekstrem, tetapi nyatanya tidak sedikit orang yang lebih cenderung memilih Google sebagai alternatif akan berbagai macam pertanyaan dan keingintahuan dalam banyak hal termasuk soal-soal pejiarahan rohani.

Perlu diakui bahwa tidak mudah mengelola sebuah blogsite, apalagi karena saya bukan seorang blogger profesional. Mungkin dari sisi finansial, tidaklah mahal mengelola www.ignatiusloyola.net ini, karena toh harga sebuah domain masih sangat terjangkau, blogger.com pun masih menyediakan blog hosting gratis dan dengan Google Apps, berbagai macam feature untuk sebuah domain bisa diwujudkan dengan cuma-cuma. Namun demikian tidaklah mudah untuk meramu berbagai macam bahan secara orisinil, bukan sekedar copy and paste dari sumber lain, dan apalagi meramu bahan-bahan spiritualitas secara menarik dan singkat padat. Menulis di blogsite memang butuh ketrampilan untuk bisa menulis pendek karena yang dibutuhkan memang artikel yang singkat bukan yang bertipe paper akademik.

Setahun memang masa yang singkat dan belum ada apa-apanya. Saya sendiri merasa setahun yang ada itu lebih merupakan sebuah "trial" untuk mencari pola dan kreativitas. Ada harapan dalam diri saya pribadi untuk mengembangkan blog ini menjadi sebuah "one stop blogsite" untuk spiritualitas Ignasian, dengan berbagai macam features dari renungan, informasi, bahan latihan doa hingga podcast. Mungkin terdengar ambisius, dan tentunya ini bukan sesuatu yang mudah, dan mungkin butuh waktu dan ekstra tenaga untuk bisa mewujudkannya. Bagi saya, kehadiran "one stop blogsite" untuk spiritualitas Ignasian berbahasa indonesia itu merupakan sesuatu yang penting, mengingat tidak sedikit umat katolik yang ingin membangun hidup rohani tetapi tidak tahu harus memulai darimana, dan mereka tidak bisa menemukan akses informasi online berkaitan dengan hal ini.

Mengapa online? Saya kira realitas online adalah sebuah fenomena yang tidak bisa terhindarkan dan mau tidak mau menjadi penting dalam pola komunikasi kita. Orang lebih sering mencari bantuan via online tentang banyak hal, dari pesan makanan, membeli barang, transaksi bank, dan bahkan termasuk soal-soal hidup rohani. PEW Internet and America Life Project sendiri pernah mengungkap bahwa 64 persen pengguna internet di amerika misalnya menggunakan internet untuk soal-soal religius dan keagamaan. Di blogsite ini, paling tidak sudah ada beberapa orang yang akhirnya bisa menjumpai beberapa contact person secara personal dengan beberapa Jesuit untuk berbicara lebih jauh soal spiritualitas Ignasian dan hidup rohani setelah mereka menemukan blogsite ini. Sebagian besar mengikuti blog ini setiap hari. Dari tracking dan hit counter yang ada paling tidak perharinya ada 20-an visitor dan juga ditambah mereka yang berlangganan via email. Sebagian besar berasal dari Indonesia, US, Singapore dan Australia. Tidak terlalu banyak, tetapi saya tetap berharap ini berguna.

Di berbagai tempat di luar negeri, Serikat Jesus sudah begitu aktif menghadirkan spiritualitas Ignasian lewat media online. Paling tidak banyak tercatat ada pray as you go dari Jesuit di Inggris, atau juga Sacred Space oleh Jesuit Irlandia, Renungan harian Creighton University atau College of The Holy Cross, dan bahkan dari Curia SJ di Roma pun sudah membuat portal web Jesuit yang sangat informatif. Belum lagi misalnya kehadiran Jesuit dalam berbagai video clip seperti banyak dibuat oleh Provinsi SJ Chicago, Detroit dan Wisconsin, Jesuit Communications, Philippines. Mungkin di Indonesia, peluang kerasulan di area blogosphere dan multimedia di internet ini belum dilirik dan dilihat potensinya.

Selain Blogsite, IgnatiusLoyola.Net juga memiliki email dan fasilitas instant messenger dengan memanfaatkan Google Apps (standard edition). Alamat email ini bisa diintegrasikan dengan program Gtalk, dan memiliki fitur yang sama dengan Gmail (antara lain: fasilitas POP3/IMAP, email forwarding, berkapasitas lebih dari 6GB-and still counting-, akses mobile, dsb.). Tentunya ini mengantisipasi rencana ke depan soal networking dalam konteks pengembangan dan spiritualitas Ignasian dalam sebuah komunitas/kelompok. Mungkin ini mimpi, tetapi untuk sesuatu yang positif tidak ada salahnya bermimpi. Bila anda tertarik menjadi kontributor dan bersama-sama mau belajar berpartisipasi dan mengelola blog ini, khususnya juga mau mengenal spiritualitas Ignasian silakan kontak saya. Keterlibatan anda sekalian tentu akan bermanfaat secara positif disini.

Tentunya saya mengharapkan dukungan, komentar dan saran anda sekalian.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Pesta Santo Ignatius Loyola

Hari ini adalah Pesta Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus, seorang mistikus dalam Gereja Katolik, pemimpin rohani yang unggul dalam Serikat Jesus.

Mungkin bagi sebagian umat katolik, merayakan pesta nama seorang santo bisa jadi sudah kehilangan makna dan relevansinya. Tidak jarang kita menjumpai sebagian orang yang tidak tahu sejarah dan asal usul santo pelindungnya. Maka, kalau kita merayakan Pesta Santo Ignatius, bagi kebanyakan orang, apalagi orang modern jaman ini, adakah hal yang relevan dari Santo berkaki pincang ini untuk kita renungkan bersama?

Sebagian orang mungkin bisa melihat dan menganggap Ignatius sebagai seorang santo tipikal abad pertengahan: seorang pendoa, seorang yang bijaksana, asketik/bermati raga, dan seorang beriman. Para Santo/Santa, karena disiplin diri yang kuat, semangat asketisme yang hebat, dan penyangkalan diri, kadang-kadang terkesan tidak menarik dan tidak mengesankan. Kalau Ignatius hanya dipandang semata-mata dari perspektif tentang santo-santa yang demikian ini, saya yakin tidak akan banyak orang muda dari generasi ke generasi selama berabad-abad mau mengikuti jejaknya.

Teman-teman Ignatius selama kuliah di Paris, tidak hanya melihat Ignatius sebagai orang yang asketik/bermati raga tetapi juga merupakan seseorang yang sungguh antusias dengan jamannya, akrab dengan perkembangan jaman dan sesuatu yang baru di jamannya waktu itu. Singkat kata, walau menjadi seorang yang sangat religius, Ignatius juga bergaul secara dekat dengan hiruk-pikuk dunia dan menikmati kegembiraannya. Ignatius justru tidak menganjurkan teman-temannya untuk ikut latah dalam praktek-praktek kesucian yang tidak relevan seperti misalnya mati raga yang berlebihan. Kalau kita melihat apa yang dianjurkan Ignatius misalnya dalam berbagai suratnya, sangat mungkin mendapati kesan bahwa anjurannya bisa diinterpretasikan melawan arus tentang persepsi "kesucian" jaman itu, dan malah cenderung "duniawi".

Dalam konsepnya ketika menulis Konstitusi Serikat Jesus, beliau menggarisbawahi sebuah pandangan bahwa dunia ini adalah baik adanya. Ignatius melihat dunia sebagai sesuatu yang indah, penuh dengan karya dan keagungan Tuhan. Maka tak heran ketika beliau mengirim banyak anggota Serikat Jesus ke berbagai penjuru dunia, dalam korespondensinya beliau selain meminta para Jesuit melaporkan karya apostolik mereka, juga mendapati laporan-laporan menarik lainnya berkaitan dengan situasi tempat para Jesuit tersebut bekerja: budayanya, bahasa, alam dan tumbuhannya, adat istiadat, musim dan cuacanya, bahkan sampai dengan soal-soalnya yang berkaitan dengan ilmu alam, astronomi dan juga budaya.

Kecintaannya pada dunia terlihat dari ciri khas sekolah-sekolah yang didirikan oleh Jesuit pada jaman itu. Sekolah-sekolah Jesuit jaman itu mengadopsi pendidikan gaya rennaisance yang selain mengintegrasikan seni dan sastra juga merupakan sebuah apresiasi mendalam terhadap budaya yunani dan romawi. Dari pola pendidikan inilah dari banyak sekolah Jesuit pada waktu itu muncul penulis-penulis dan pemikir yang ulung.

Ignatius adalah seseorang yang mencintai dunia. Mungkin bukan tipikal seorang santo yang "menolak" dunia, sebaliknya Ignatius sangat dekat dengan mentalitas jaman dan berusaha untuk merangkul banyak orang di jamannya merengkuh kekayaan dunia dan mempersembahkannya kepada Tuhan sendiri.

Dengan latar belakang itu, mungkin kita bisa memahami mengapa misalnya banyak Jesuit dewasa ini melakukan pekerjaan yang bukan tipikal seorang pastor atau religius. Ada Jesuit yang bekerja sebagai dosen, ekonom, ilmuwan, ahli komputer, psikolog, konselor, ahli pendidikan, pekerja sosial, pemusik, seniman, broadcaster dan banyak bidang lainnya. Ignatius sendirilah yang telah memulainya sejak awal. Ignatius ingin mengajak kita semua untuk menyadari sungguh indahnya dunia. Ignatius ingin supaya para Jesuit yang bekerja di berbagai bidang tersebut untuk sungguh bisa memanfaatkan dunia yang kompleks, indah dan penuh pesona ini sebagai sebuah medan untuk pada akhirnya membawa semakin banyak orang mencintai penciptanya. Dunia perlu kita rangkul dan dari situ pula kita mengusahakan kesucian: menjadi semakin manusiawi, menjadi semakin "mendunia" tetapi tetap demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.

Seringkali kita merasa bahwa kesucian tidak mungkin berawal dari kecintaan kita pada dunia. Kita sering berpikir untuk bisa suci kita perlu menyangkal hal-hal yang berbau "duniawi" dan lebih memfokuskan diri pada perbuatan-perbuatan saleh. Ignatius selalu mengajak kita untuk mengenal sungguh potensi kemanusiaan kita, mengenal lingkungan kita, mengenal kelemahan kita dan pada saat yang sama memahami hidup kita di dalam dunia ini merupakan sebuah pejiarahan bersama Tuhan sendiri.

Selamat Pesta Santo Ignatius!

AD MAIOREM DEI GLORIAM!


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Rabu, 2008 Juli 30

Ad Maiorem Dei Gloriam- Novena Hari 9

Ambillah ya Tuhan Kebebasanku
Kehendakku, budi ingatanku
Pimpinlah diriku dan Kau kuasai
Perintahlah, akan ku taati

Hanya rahmat dan CintaMu padaku
Yang ku mohon menjadi milikku
Hanya rahmat dan cinta dariMu
Berikanlah menjadi milikku

Lihatlah semua yang ada padaku
Ku haturkan menjadi milikMu
Pimpinlah diriku dan Kau kuasai
Perintahlah akan kutaati

Doa yang sering kita dengar ini adalah bagian dari Latihan Rohani St. Ignatius (no.234), yang bisa menjadi sebuah "ringkasan" perjalanan hidup Ignatius: Mengabdi Sang Pencipta. Keinginannya adalah mengabdi Tuhan, membawa orang kepada Tuhan dan mencintai orang miskin. Kita mungkin bisa bertanya, darimanakah energi yang Santo Ignatius dapatkan sehingga ia berani meninggalkan Puri Loyola yang megah dan status kebangsawanannya, pergi berjiarah, menjadi pengemis, kembali ke bangku sekolah dan belajar hingga mendirikan Serikat Jesus? Sebuah pejiarahan hidup yang sangat panjang dan tentunya melelahkan.

Satu-satunya jawaban adalah: Perasaan dicintai oleh Tuhan yang begitu besar. Ya, perasaan cinta Tuhan yang begitu besar inilah yang menggerakkan Ignatius. Energi yang dia dapat bersumber dari pengalaman dicintai oleh Tuhan sendiri yang begitu besar. Kisah Ignatius adalah kisah seorang santo yang sangat manusiawi. Dia tidak lepas dari ketakutan, kesepian, godaan atau kelemahan-kelemahan manusiawi lain. Namun alih-alih lari dari realitas itu, Ignatius malah berani menghadapinya, merasakan godaan yang ada dan akhirnya menjadi peka akan kelemahan diri, gerakan roh baik dan jahat serta karakter dirinya. "Menjadi suci adalah menjadi semakin manusiawi, bukan menjadi sempurna", mungkin begitulah kisah Ignatius bisa kita lukiskan. Artinya, dengan merengkuh nyata kemanusiawian kita, lengkap dengan segala kelemahan dan kedosaan, kita semakin juga merasakan cinta Allah yang besar dalam seluruh perjalanan hidup kita. Dalam kelemahan kita, Allah pun bekerja, dan seringkali kita menemukan bahwa pengalaman jatuh kita merupakan sebuah ajakan untuk bertemu Dia dan juga ajakan untuk mengenal diri kita secara lebih mendalam. Disinilah cinta Tuhan sungguh menjadi lebih nyata.

"Menjadi suci adalah menjadi semakin manusiawi, bukan menjadi sempurna"

Apakah anda pernah merasakan cinta Tuhan? Dimanakah dan bagaimanakah cinta Tuhan itu anda terima dan rasakan? Apakah dalam kelemahan dan pergulatan diri anda, anda pernah menemukan dan berjumpa dengan Tuhan sendiri? Sejauh mana perjumpaan itu membekas dan sungguh mengubah diri anda? Darimanakah energi yang menggerakkan hidup anda sekarang? apakah hidup kita hanya digerakkan semata-mata atas kebutuhan untuk "survive", semata-mata hanya karena kita harus bekerja, mencari uang, menghidupi diri atau keluarga? atau adakah dimensi spiritual dari apa yang kita kerjakan dalam hidup ini? Dimanakah Tuhan dalam hidup anda?

Mungkin ada baiknya kita menyisihkan waktu untuk merenungkan hal ini....dan akhirnya bisa bertanya sebagaimana Santo Ignatius pun bertanya dalam dirinya kepada Kristus yang tersalib:

"Apa yang telah kulakukan untuk Dia"
"Apa yang sedang kulakukan untuk Dia"
"Apa yang akan kulakukan untuk Dia"

Ad Maiorem Dei Gloriam- begitu semboyan dari Ignatius, yang artinya Demi Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar. Apakah hidup kita adalah wujud ekspresi "ad Maiorem Dei Gloriam"? Semoga!

Bisa anda tutup dengan Novena St. Ignatius


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Selasa, 2008 Juli 29

Ignatius dan Desolasi- Novena Hari 8

Dimanakah Tuhan ketika kita kesepian? Dimanakah Dia ketika kita terpuruk dalam kelemahan kita? Dimanakah Dia ketika penderitaan datang? Rasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut sangatlah tidak asing dalam hidup kita. Apakah Tuhan sungguh meninggalkan kita pada saat-saat yang demikian?

Membaca kisah hidup Santo Ignatius dari hari ke-1 hingga hari ke-7, kita bisa melihat bahwa dari pertobatannya, hidup Ignatius selalu diwarnai dengan kesepian jiwa atau kesepian rohani selain kegembiran dan semangat rohani atau batin yang luar biasa pula. Dalam pertobatannya, kesepian pun dirasakan. Dalam perjalanan rohaninya seringkali dia merasa lelah, putus asa, sendirian, pun bila itu semua adalah demi Kemuliaan Tuhan yang lebih besar.

Kesetiaan Ignatius dan keteguhan iman Ignatius-lah yang membuat imannya berbuah dan semakin meyakinkan dia bahwa Tuhan hadir. Kesepiannya tidak membuat Ignatius goyah iman, tetapi dengan sabar mencoba "menjiarahi" batinnya, menyelami alam kesepian dan berjumpa dengan Tuhan sendiri disana. Kesepian, ibarat Tuhan yang diam, tetapi tetap hadir menemani kita untuk berani masuk ke dalam "gelap", menyelami relung hati kita, dan terkadang melihat wajah kita yang sesungguhnya.....wajah yang seringkali tidak berani kita tatap sungguh-sungguh, karena penuh dengan kelemahan dan dosa kita.

Inilah yang dalam Spiritualitas Ignasian disebut dengan desolasi (kesepian rohani). yang harus dihadapi dengan dengan besar hati dan sikap berserah kepada Tuhan. Ini mengandaikan iman dan harapan yang besar akan cinta Tuhan sendiri. Kita kiranya bisa sungguh belajar dari Ignatius. Latihan Rohani-nya yang dahsyat itu adalah hasil buah iman dan kepercayaan yang sungguh besar akan kasih Tuhan, dan juga menunjukkan sikap kerendahan hati seorang Ignatius.

Saya mengajak anda merenungkan saat dimana kita berada dalam kesepian rohani dan batin, dan merenungkan sungguh bagaimana kita menghadapinya dengan iman. Video clip lagu berikut kiranya bisa membantu kita semua untuk merenungkannya.



Dilanjutkan dengan Novena Santo Ignatius


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Senin, 2008 Juli 28

Ignatius di Roma- Novena Hari 7

Ignatius dan para sahabatnya setelah diteguhkan dalam Latihan-Latihan Rohani, bertekad teguh untuk mengabdikan diri mereka kepada Gereja. Itulah sebabnya, Ignatius pada tahun 1537 pergi ke Roma untuk memberikan diri mereka pada Bapa Suci dalam semangat ketaatan kepada Gereja.

Ignatius sungguh diterima oleh Paus Paulus III pada waktu itu, dan dalam kesempatan itu Ignatius juga mengungkapkan keinginan mereka untuk pergi ke Yerusalem dan bekerja disana sebagai sebuah impian dan cara untuk melayani Gereja. Agaknya Bapa Suci sendiri tidak terlalu antusias untuk mengirim mereka ke Tanah Suci, dan sebaliknya dalam sebuah kesempatan, secara spontan Bapa Suci pernah mengatakan “Mengapa kamu begitu ingin pergi ke Yerusalem? Itali bisa menjadi sebuah Yerusalem kalau kalian memang sungguh-sungguh mau bekerja bagi Gereja”. Nampaknya perkataan Bapa Suci ini dalam kesempatan berikutnya sungguh menjadi nyata.

Roma pada waktu itu terancam bahaya kelaparan, banyak gelandangan, pengungsi dan juga tingkat pertumbuhan ekonomi yang buruk akibat adanya perang Turki yang mempengaruhi stok pangan dan kebutuhan hidup lainnya. Setting kota yang seperti ini menjadi kesempatan buat Ignatius dan kawan-kawannya untuk berbuat sesuatu membantu banyak orang yang menderita dalam kegiatan social. Kegiatan Ignatius ini menjadi sungguh signifikan dan besar sampai-sampai ribuan orang sudah dilayani oleh mereka. Lambat laun mereka mulai sadar bahwa impian pergi ke Yerusalem bukanlah sesuatu yang realistis, mengingat situasi politik dan ekonomi, dan apalagi kalau melihat apa yang ternyata bisa mereka buat di Roma pada waktu itu.

Renungan:

Dalam spiritualitas Ignasian, impian atau keinginan seringkali merupakan pintu masuk untuk menemukan hidup anda dan juga bahkan menemukan kehendak Tuhan sejauh anda mau membawa dan menimbang-nimbangnya di dalam doa dan percakapan hidup anda.

Setiap kali kita melakukan Latihan Rohani, ataupun berdoa secara Ignasian, kita selalu diajak meminta rahmat secara spesifik, yang kita dambakan di awal doa kita. Mengapa demikian? Karena doa dan hidup kita adalah 2 hal yang integral dan terkait satu sama lain. Rahmat Tuhan bekerja lewat kodrat kita sebagai manusia dengan segala dimensinya. Dalam impian-impian kita, energi untuk hidup dan berkembang itu sungguh nyata dan tumbuh. Integrasi keduanya dalam doa dan lewat pembedaan roh sebenarnya merupakan inti pokok dalam spiritualitas Ignasian.

Sekarang soalnya adalah: apakah anda masih berdoa dan memiliki impian hidup? Ataukah 2 hal ini seringkali merupakan 2 hal yang terpisah? Sejauh mana hidup anda merupakan hidup yang terinspirasi dari doa-doa anda? atau hidup anda hanya terinspirasi dari impian anda saja? Ataukah anda hanya hidup dari harapan-harapan kosong doa anda yang lepas dari realitas sehari-hari? Masihkah menemukan ruang dimana energi dalam impian anda itu anda "timbang-timbang" dalam doa dan percakapan anda dengan Tuhan?

Bisa ditutup dengan Doa Novena St. Ignatius Loyola


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy